Kamis, 17 Mei 2012

Sebuah Hadiah

Kawan ketika kita berpikir untuk berbuat baik – aku tak bilang besar atau kecil – yang pasti kita hanya perlu melakukannya. Tak perlu banyak pertimbangan. Kau tahu itu. Kita semua tahu mengenai hal itu.


Sedikit yang ingin aku sampaikan, mungkin kau bosan dengan hal ini. Tapi tak ada salahnya aku ulang kembali dongeng ini. Semoga alurnya kembali melewati lintasan-lintasan dalam otakmu. Dan tanpa reserve tubuhmu melakukan apa yang disebut dengan kebaikan.
----------
ALKISAH, pada suatu waktu, ada sebuah awan yang sangat kecil dan sangat kesepian dan biasa berkeliaran jauh dari awan-awan besar. Ia begitu kecil, nyaris tak sampai seuntai. Dan manakala awan-awan besar membasahi hijaunya daratan, si awan kecil terbang mendekat menawarkan jasanya. Tapi mereka mengoloknya karena ia begitu kecil.
”Kau tak punya apa-apa untuk dipersembahkan.” awan-awan besar biasa memberitahunya. ”Alangkah kecil dirimu.”
Mereka mengoloknya menjadi-jadi. Dengan sangat sedih si awan kecil menyingkir, mencari tempat lain untuk menurunkan hujan. Tapi kemanapun dirinya pergi, awan-awan besar mendesaknya untuk minggir. Maka si awan kecil pergi lebih menjauh lagi hingga sampai di tempat yang sangat kering kerontang, saking keringnya tak satu dahan pun tumbuh, dan si awan kecil berkata pada cerminnya – aku lupa memberitahumu bahwa si awan kecil selalu membawa cermin agar ia bisa berbicara dengan dirinya sendiri saat sedang sendirian – ”ini lokasi sempurna untuk menjadikan diriku hujan karena belum ada yang pernah kesini.”
Si awan kecil mengerahkan tenaganya untuk menjadikan dirinya hujan dan akhirnya menelurkan setetes air. Terus-menerus. Meluncur kebawah. Tetes hujan kecil itu menciprat sendirian. Karena lengangnya daerah kering itu, tetes hujan kecil itu membuat kebisingan hebat waktu jatuh dan menciprat tepat ke batu. Dan ia membangunkan bumi yang bertanya:


”Ada apa ribut-ribut?”
“Tetesan hujan.” Jawab batu.
“Tetesan hujan? Berarti akan turun hujan yang lebih banyak lagi. Bangun! Lekas! Memberi komando kepada tumbuhan yang sembunyi dibalik tanah dari sengatan sinar matahari.

Maka tumbuh-tumbuhan pun bangun dan mengintip, dan dalam sesaat seisi padang tandus tersaput warna hijau, dan awan-awan besar pun melihat hijau itu dari kejauhan dan berkata:
”Lihat. Ada banyak hijau disana. Ayo bikin hujan di tempat itu. Kita tidak tahu disana begitu hijau.”
Maka pergilah mereka menjadikan dirinya hujan ditempat yang dulunya kering kerontang. Mereka curahkan hujan dan hujan.
Dan waktu itu, tak seorang pun teringat akan seuntai awan kecil yang mengucurkan setetes hujan kecil yang cipratannya membangunkan mereka yang tertidur.
Tak seorangpun ingat, tapai si batu menyimpan rahasia awan kecil itu. Waktu berlalu, dan awan-awan besar pertama itu pun lenyap dan tanaman-tanaman itu pun mati. Dan batu yang tak mati, memberitahu tanaman-tanaman baru yang terlahir dan awan-awan baru yang tiba, kisah mengenai seuntai awan kecil yang mengucurkan setetes hujan kecil.
----------
Sangat indah apa yang Allah katakan kawan. Dalam firman-Nya:
”Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (Al-Zalzalah:7).


copy by :  Komda Fast Saintek